Stop Press!! Artikel ini khusus buat mereka yang
berpacaran dan pernah punya pacar. Waduh, gimana dong nasib mereka yang
hidupnya lurus-lurus aja alias nggak pernah pacaran? Masa’ nggak boleh
ikutan baca? Hehe... tentu boleh dong. Siapa tahu ada orang-orang di
sekeliling kamu yang membutuhkan, padahal kamu masih belum punya
pengalaman, kamu tinggal kasihkan artikel STUDIA edisi kali ini. Asyik
kan?
Masa pacaran, siapa sih yang nggak
panas-dingin bila mengenangnya? Panas-dingin karena teringat indahnya.
Tapi bisa juga panas-dingin karena takut dosanya. Yang pasti sih, saya
yakin kamu udah pada insaf kalo pacaran tuh cuma ajang menumpuk dosa
akibat baku syahwat yang melanggar syariat. Kalo masih belum yakin
juga, kamu bisa baca-baca lagi file STUDIA yang lalu-lalu biar
ingatanmu fresh lagi.
Nah, udah ingat
lagi kan? Kamu yang dulu memutuskan si dia karena takut dosa. Kamu yang
memutuskan kekasih karena insaf. Kamu yang tak mau lagi mempunyai
ikatan nggak sah. Kamu yang udah nyadar dan nggak pingin mengulangi
lagi. Entah kenapa tiba-tiba aja bayangan si dia nongol lagi dalam
benakmu.
Tiba-tiba aja nggak sengaja ketemu di angkot. Atau di
tempat les bahasa Inggris. Atau bisa juga karena kamu yang lagi
beres-beres kamar menemukan satu lembar foto doi dalam pose yang bikin
kamu tersepona. Tapak kenangan dirinya ternyata belum hilang sepenuhnya
dari benakmu. Duh... gimana menyikapi rasa ini?
Padahal kamu tahu
bahwa jalinan cinta itu tak mungkin lagi untuk diulang. Ia hanya
penggalan masa lalu yang kudu dikubur dalam-dalam. Terus, gimana dong?
Ketika si dia hadir kembali
Setelah beberapa saat mampu melupakan bayangan dirinya, tak disangka
tak diduga tiba-tiba si dia hadir lagi dalam kehidupanmu. Kehadirannya
pun mampu menghadirkan suasana haru-biru yang dulu pernah singgah di
hatimu. Meski kalian sudah tak ada lagi ikatan, kenangan lama itu
begitu indah untuk dilewatkan begitu saja. Bagaimana pun, kamu masih
menyimpan direktori memori itu dalam salah satu sudut hati. Ehem...
Tenang
aja, yang namanya perasaan itu bersifat ghoib kok, nggak terlihat.
Karena nggak terlihat maka tak bisa pula dikenai hukum. Tapi meskipun
bebas dari hukum, bukan berarti kamu bisa bebas juga membiarkannya
tanpa batas. Catet ye!
Bukanlah ada Yang Maha
Mengetahui baik yang ghoib dan yang nyata? Ya, meski tak ada satu pun
teman yang memergoki, tapi kamu pantas malu dong sama Dia. Ia Yang Maha
Memantau kondisi hatimu. Lagi pula, kalo yang namanya rasa, meski nggak
terlihat tapi ia akan membekas pada perbuatan. Jadi, bisa aja kamu
tanpa sadar menyebut namanya. Atau setengah pingsan berusaha lewat
depan kelasnya hanya demi bisa melihat sosoknya meski sekilas. Duh...
sampe sebegitunya ternyata kalo perasaan dimanjakan.
Padahal
sedari awal ketika kamu mengambil keputusan untuk mem-PHK dia, kamu
sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa pacaran adalah salah satu jalan
syaitan untuk mengajak maksiat. Karena kamu nggak mau jadi teman
syaitan, maka kamu pun nggak mau lagi pacaran. So, sebetulnya
kamu itu udah paham kok bagaimana menyikapi pacaran. Cuma yang kamu
agak nggak paham adalah menyikapi kenangan yang kadangkala timbul
tenggelam kayak tanpa dosa, gitu.
Apalagi biasanya mereka yang
sebelumnya menjadi aktivis pacaran, biasanya rentan banget untuk diajak
balik oleh sang mantan. Memang sih nggak semua, cuma jaga-jaga aja kalo
ternyata kamu ternyata adalah tipe yang lemah ini. Waspadalah!
Hati-hati musang berbulu domba
Jangan terjebak dengan bujuk rayu dunia. Entah sang mantan ngajak
balik, or ada ikhwan berbulu domba yang ngajakin kamu pacaran dengan
bingkai Islam. Mulutnya manisnya ngajak ta’aruf tapi aktivitasnya nggak
beda jauh dengan pacaran. Eh, ternyata karena si ceweknya lemah iman
(tentu cowoknya juga dong), mau aja ia nginap berhari-hari di rumah si
ikhwan tanpa hajat alias keperluan syar’i yang jelas, misalnya.
Meskipun
sudah jadi calon suami dan bawa teman sekampung, kamu masih belum boleh
tuh nginap di rumahnya. Apalagi pake acara pelesir ke tempat-tempat
rekerasi. Duh duh... di mana pemahaman kamu tentang hukum syara’ selama
ini? Or jangan-jangan kamu bolos ya waktu pembahasan topik pergaulan
dalam Islam? Atau.. memang nggak paham?
Kamu kudu hati-hati, saat ini banyak ikhwan jadi-jadian kayak gini. So,
biar kamu nggak terjerumus lagi, niatkan hijrahmu ini karena Allah
saja, bukan yang lain. Lalu berkumpullah dengan orang-orang sholeh
dalam hal ini akhwat-akhwat sholihah yang menjaga diri dan pergaulan.
Dengan berkumpul bersama mereka, akan ada orang yang akan menjaga dan
menasihati kamu bila akan salah langkah.
Kalo
sudah sampe pada tataran ini, kamu kudu introspeksi. Apa yang salah
pada dirimu? Kenapa bayangan doi masih menari-nari? Kenapa kenangan itu
sulit dihapus dari hati?
Pertama, mungkin saja
kamu lagi krisis hati yang bermula dari kekurangdekatan kamu pada Yang
Maha Membolak-balik hati. Kamu masih punya sekian banyak waktu luang
sehingga terbuka peluang untuk bengong. Padahal yang namanya syaitan
itu paling demen masuk pada momen ini. Panjang angan-angan dengan
banyak melamun.
Kedua, ganti ‘kacamata’ yang kamu pake. Si mantan boleh jadi adalah seseorang yang terlihat begitu perfect
di matamu. Udah cakep, tajir, ramah, baik hati, suka menolong, rajin
menabung, patuh pada orang tua, rajin sholat lagi. Bagi yang belum
paham hukum pacaran, cowok tipe ini adalah all girls ever want.
Jadi
bisa aja kamu begitu dengan berdarah-darah saat memutuskannya.
Hehehe..biar hiperbolis gitu kedengarannya. Maksudnya, kamu sebetulnya
masih sayang sama dia dan nggak ingin pisah darinya. Tapi kesadaranmu
terhadap keterikatan pada hukum Allah Swt., bahwa pacaran adalah
aktivitas mendekati zina, jauh lebih kamu pilih daripada kelembutan si
dia.
Ketiga, bisa jadi kamu ternyata nggak
begitu paham konsep jodoh. Kamu mati-matian masih berat sama dirinya
meski udah putus. Ada terbersit rasa takut dalam dirimu gimana kalo
ternyata si mantan nikah sama cewek lain.
Itu
artinya, kamu belum benar-benar putus dan mengikhlaskan dirinya pergi.
Jadinya, kamu masih ada harap-harap si dia akan datang dan ngajakin
kamu merit. Padahal harapan itu jauh panggang daripada api alias sulit
terwujud. Lha wong ternyata pacarmu saat ini malah asyik berlumur
maksiat dengan punya cewek baru setelah kamu putus.
Iman
adakalanya bertambah dan berkurang. Ketika imanmu sedang
tinggi-tingginya, kamu begitu pasrah dan ikhlas melepaskannya. Tapi
ketika iman sedang down, kamu merasa begitu sayang dan ingin
kembali padanya. Itu sebabnya ada resep sederhana: iman bertambah jika
taat kepada aturan Islam, iman berkurang tentu jika kita maksiat kepada
Allah dan RasulNya. Pilih mana ayo? Orang cerdas, pilih taat syariatNya
dong ya. Betul ndak?
Yakinlah pada takdirNya
Yakin pada qadha alias keputusan Allah yang ditetapkan atas diri kita,
adalah kuncinya. Selama kita telah berjalan pada rambu-rambu
syariatNya, maka selebihnya bertawakallah. Allah hendak menguji imanmu,
apakah kamu lebih mencintai sang mantan pacar ataukah taat pada
aturanNya? Kamu nggak bisa dong mengaku-aku beriman padahal belum jelas
siapa saja yang bakal sanggup melewati pintu-pintu ujian itu. So. ati-ati deh.
Ada
sebuah peristiwa, sepasang remaja yang saling mencinta harus rela
memutuskan ikatan tanpa status yang mereka punya alias pacaran. Kedua
pasang remaja ini adalah pasangan idola di masa SMA. Beberapa tahun
kemudian, yang akhwat alias remaja putri tadi memutuskan untuk menerima
khitbahan seorang ikhwan. Entah dengan alasan apa, ia memutuskan tidak
mau melihat siapa calon suaminya hingga akad tiba. Ia hanya percaya
saja pada pembina ngajinya tentang kualitas nih ikhwan. Sumpah!
Dan
tepat ketika akad nikah tiba, saat ia harus mencium tangan suaminya, ia
mendongak dan jatuh pingsan. Apakah suaminya bewajah seperti beast hingga ia shock?
Ternyata sebaliknya. Suami yang kini telah sah menjadi pasangan jiwanya
adalah seseorang yang begitu dalam terpatri di lubuk hatinya. Kekasih
yang diputuskannya karena Allah dan saat ini Allah pula yang menyatukan
sang kekasih dengan dirinya lagi.
Tapi kamu
jangan buru-buru gembira dulu. Wah, asyik, aku putusin aja sang pacar
sekarang. Beberapa tahun lagi ia pasti akan datang meminang dan
menikahiku. Waduh, kalo gitu caranya, kamu taat syariat tapi dengan
pamrih tuh. Namanya nggak ikhlas, Non. Padahal sebuah amal nggak bakal
diterima bila bukan semata-mata hanya mengharap ridhoNya saja. Jadi,
pamrih yang dibolehkan cuma ridho Allah, lain tidak.
Karena
ada juga sebuah kisah lain yang tidak sama dengan yang di atas. Nih
akhwat cakep banget dan di masa jahiliyah sebelum paham Islam dengan
baik dan benar, pacar-pacarnya selalu cakep dan kaya. Setelah ngaji, ia
pun memPHK pacarnya dan tak mau lagi berhubungan dengan mereka.
Dua
tahun mengaji, ada ikhwan datang meminangnya. Kondisi ikhwan ini sangat
jauh dari tipe laki-laki yang pernah menjadi pacar-pacarnya. Secara
fisik, nih ikhwan lebih pendek dari si gadis. Apalagi kakinya juga
cacat sebelah. Secara harta, ia pun masih awal dalam pekerjaannya. Tapi
apa yang dilakukan oleh si gadis? Ia menerima ikhwan ini karena satu
hal, kesholehannya.
Kemungkinan ini sangat bisa
terjadi. Mungkin secara fisik dan harta, jodohmu tak seindah yang
pernah menjadi pacar-pacarmu. Tapi satu hal, bila kesholihan seseorang
yang kamu jadikan patokan, maka insya Allah akan barokah dunia akhirat.
Dan yang utama, niat atau motivasi kamu dalam beramal sangat menentukan
kualitas dirimu ke depan.
“Aku baik-baik saja”
Yakinkan dirimu dengan prinsip: “Aku akan baik-baik saja” (meski tanpa
si doi). Jangan terlalu memanjakan perasaan. Kenangan itu hadir kalo
kamu emang berusaha menghadirkannya. Emang sih, kenangan itu nggak
mungkin bisa terhapus dari memori hatimu. Bahkan, ia merupakan bagian
dari proses pendewasaan kamu untuk melangkah ke masa depan. Tapi, itu
bukan alasan untuk kemudian berlarut-larut dalam kenangan yang tak
berkesudahan. Sebaliknya, tanamkan dalam diri bahwa kamu akan menjadi
seseorang yang lebih baik dengan menanggalkan masa lalu yang berlumur
dosa akibat menjadi aktivis pacaran.
Jangan
mengulang kesalahan yang sama ketika kamu sudah meng-azzam-kan diri
alias bertekad untuk berubah. Kalo ternyata sikap dan kelakuan kamu
masih sama, bukan nama kamu saja yang bakal jelek. Tapi citra muslimah
berjilbab dan anak ngaji pun akan tercoreng. Ibarat susu sebelanga,
jangan sampai kamu menjadi nila setitik itu.
Pancangkan
tekad kuat bahwa kamu nggak akan pernah tergoda lagi untuk ngulangin
pacaran. Kamu nggak akan terbuai oleh embel-embel Islam padahal
sejatinya adalah maksiat. Dan supaya nggak terjatuh ke lubang yang
sama, kamu kudu rajin mencari ilmu tentang batasan pergaulan dalam
Islam. Jangan menjadi anak ngaji hanya karena pingin dapat jodoh dari
sana. Sesungguhnya setiap amalan dinilai Allah berawal dari niatnya.
Yakinlah
kamu akan baik-baik saja kok meski tanpa sang mantan or si ikhwan
jadi-jadian. Jodohmu sudah tertulis sejak mula ruhmu ditiupkan. Bahkan
Allah telah menjanjikan bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang
baik dan perempuan yang baik juga untuk laki-laki yang baik. Begitu
sebaliknya (coba deh kamu buka al-Quran surat an-Nuur ayat 26). Kamu
nggak usah resah dan gelisah masalah jodoh. Toh kita hidup bukan cuma
ngurusi masalah satu ini kan? Selama kamu maksimal beikhtiyar dengan
jalan yang baik dan benar, jodoh yang datang nanti juga nggak jauh dari
kualitasmu. Yakin aja.[ria: riafariana@yahoo.com]
STUDIA Edisi 310/Tahun ke-7
dudung.net